Archive for ‘muamalah’

August 17, 2012

Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman.

Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.
Hukum Shalat ‘Ied
Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.“[2]

read more »

Advertisements
December 24, 2011

Akankah Kita Memberontak ?

Para pembaca yang budiman, Alloh menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Nabi-Nya yang mulia untuk membimbing serta memberi petunjuk kepada para hamba-Nya ke jalan yang lurus. Alloh berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih, bahwa bagi mereka pahala yang besar.”(Al-Isro’: 9)

read more »

June 10, 2011

Teori Orientalis yang Telah Usang

 

At Tauhid edisi VII/24

Oleh: Ginanjar Indrajati

Suatu hal yang mengagetkan ketika penulis membaca salah satu artikel Ulil Abshar Abdalla [pentolan Jaringan Islam Liberal] yang menyinggung teori Projecting Back (proyeksi ke belakang). Teori ini mula-mula dikembangkan oleh orientalis asal Hongaria, Ignaz Goldziher, yang kemudian diteruskan muridnya, Joseph Schact (asal Jerman). Teori ini dikemukakan untuk meruntuhkan metode sanad (rantai periwayatan) hadits yang telah disusun dengan baik oleh para ulama Islam.

Dalam teori ini, terdapat anggapan bahwa sanad-sanad hadits yang tersebar saat ini adalah buatan para ahli fikih sendiri untuk melegitimasi pendapat fikihnya, yang dilakukan dengan cara memproyeksikannya ke belakang, yaitu dengan menyandarkannya kepada Nabi, atau tokoh-tokoh di belakang mereka. Pemikirannya ini, dilambungkan dalam dua buku Schacht yang mengguncang dunia, The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950) dan An Introduction to Islamic Law (1964).

Kita tidak memungkiri adanya hadits-hadits palsu. Oleh karena itu, para ulama menyusun ilmu musthalah hadits untuk menyeleksi hadits-hadits tersebut. Dari situ, kita pun mengenal istilah hadits shahihdhaif (lemah), maudhu’ (palsu) dari hasil penelitian mereka. Namun, apakah hadits-hadits yang tersebar di masa kini “semuanya” adalah rekasaya para ahli fikih di masa lalu? Konsekuensinya, Jika semua hadits adalah rekasaya ahli fikih, berarti ibadah shalat, zakat, puasa, haji, dan amalan-amalan sunnah adalah rekasa. Artinya, Islam adalah agama rekasa. Inilah konsekuensi logis dari teori berbahaya ini.

read more »